Misery II

Kelam, Malap, Malam yang suram, walau hiruk piruk kota SA, tak bisa menghiburkan aku. Waktu libur juga, tetap tak bisa rawat kesunyian. Walau mana aku melangkah, atau menyusup laju dengan roda-roda ku, Mencelah arus lalu lintas KL, menyelit satu persatu kenderaan, sambil ditemani deruman enjin 110cc, tanpa bimbang bergesel atau tersembam, masih tak cukup utuk meredakan kebosanan.

Walau jauh aku berkelana, ada tak kemana-mana, walau mengasing diri seketika, ia hilang sebentar, kelak datang kembali, menghantui lagi, dan lagi dan lagi.

Kenapa? Ke mana? Entah. Lari? Mengapa masa silam, memburu, menghantui. Tiap-tiap detik selepas saat itu mandom, Membosankan, menyakitkan. Ah! Mana saja ku pergi, Kau ada aja!

Kau kenangan silam. Kau mencabar, membelenggu, menghambat aku. Pergilah, pergi. Aku perlukan ruang untuk diri sendiri.

Tuhan, tolonglah hamba mu ini, Berilah aku ketenangan, kedamaian, kegembiraan, Tuhan, Sayangilah aku. Berikan aku cinta, ciptaan Maha Karya. Dari Adam untuk Hawa.

Tapi Tuhan, mengapa setelah saat itu, aku sering serik menyayangi dia. Aku serik untuk lagi mencintai mereka. Mungkin ada getaran takut hati dilukai lagi. Cinta, berkali-kali ia datang dan pergi, datang dan pergi, dan hari ini ingin datang lagi. Apakah kali ini ujian mu Tuhan? Anugerah Maha Karya.

Andai begitu, Aku reda dan pasrah, dan berikanlah aku perasaan cinta itu sekali lagi, agar aku bisa curahkan segalanya dan mencintai sekali lagi kaum Hawa itu, sebagaimana pertama kalinya Adam dan Hawa.

Namun, andai itu bukan. Hati ini akan terluka lagi, aku takut, namun aku reda dan pasrah.

Pada mu Kekasih, akan ku terus sujud pada Mu, membentang sejadah mengharap kasih Mu, zikir kesetiaan dan cinta ku, hanya pada Mu tuhan yang Maha Esa. Astafiruka Hainnallaha kanatauwaba.

Faizal Nayan 25 Jun 2007 12:21 pagi Restoran Khulafah, Seksyen 7, SA.

Leave a Reply